Mengapa Saya Memilih Jadi Guru?

20151125_090100

Teman-teman sering bertanya pada saya : ”Py, kenapa kamu memilih jadi guru? Bukankah lebih enak di kantor dan uangnya lebih banyak?”

Menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Saya tidak pernah menyesal dan sangat mencintai pilihan saya. Selain sebuah pekerjaan yang asyik dan menantang, menjadi guru juga sebuah pekerjaan luhur dan mulia.

Menjadi Guru adalah sebuah tantangan

Menurut saya tanggung jawab yang diemban seorang guru lebih berat dibanding profesi yang lain. Berbeda dengan pekerjaan di kebanyakan kantor yang sehari-hari berhadapan dengan benda mati seperti kertas, guru berhadapan dengan manusia dengan berbagai watak dan karakter yang berbeda-beda.

Guru bertanggung jawab menempah peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Tentu sangat diperlukan kasih sayang dan kelembutan serta profesionalisme.

Tidak semudah mengetik pada sebuah kertas atau komputer yang apabila salah dapat dihapus dengan mudah bahkan berulang-ulang, mendidik siswa sangat dibutuhkan kehati-hatian dan ketelitian serta pemilihan metode yang tepat. Membatalkan atau menghapus sebuah pemahaman yang sempat tertanam dalam diri seorang siswa membutuhkan proses yang panjang.

Keberhasilan guru mungkin akan diukur mungkin hingga puluhan tahun setelah si anak didik menjadi dewasa. Kalau di instansi lain seperti kantor dan perusahaan, capaian atas program/ kinerjanya mungkin dapat diukur secara tahunan.

Seorang guru akan sangat merasa bangga kerika mengetahui bekas anak didiknya berhasil dan menjadi orang hebat. Sebaliknya, akan sangat malu, menyesal dan sedih ketika mengetahui anak didiknya gagal.

Menjadi Guru indah dan asyik

Selain menantang, menjadi guru juga sebuah profesi yang mengasyikkan. Saya merasa senang dan menikmati hari demi hari bersama murid-murid dengan berbagai sifat dan karakternya. Ada yang lugu, polos, iseng bahkan jahil dan nakal. Setiap hari ada saja yang membuat saya tertawa, kesal bahkan kadang jengkel. Dan saya sangat menikmati itu, daripada setiap hari harus berhadapan dengan setumpuk surat-surat yang buat saya sangat membosankan.

Menjadi Guru itu pekerjaan yang mulia

Teman-teman yang bekerja sebagai pegawai struktural di kantor-kantor juga di perusahaan mungkin akan mendapatkan bonus akhir tahun atas keberhasilan pekerjaannya, tetapi seorang guru mungkin tidak akan dan tidak pernah berharap mendapat imbalan jasa atas keberhasilan anak didiknya disuatu saat. Meski demikian, guru akan sangat merasa bangga dan bersyukur atas pencapaian yang diperoleh anak didiknya. Bagai kasih seorang ibu yang hanya memberi dan tak pernah berharap kembali.

Seorang Guru juga harus Profesional

Menciptakan peserta didik yang cerdas dan berahlak, tentu harus didukung dengan guru yang profesional dan menguasai bidang tugasnya. Lihat saja pemerintah kita sudah mewajibkan pendidikan minimal Sarjana Pendidikan untuk seorang guru Sekolah Dasar .

Hal-hal di atas membuat saya tertarik dan tertantang untuk menjadi seorang guru, walau dengan penghasilan yang pas-pasan. Berbeda dengan teman-teman saya bekerja di perusahaan atau di kantor-kantor yang berpenghasilan wah. Bagi saya, menjadi guru merupakan sebuah panggilan.

05 Desember 2015
Penulis :
Heppy Lastio Munte, S.Pd

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s