Who am I?

Saya seorang wanita yang lahir dari sebuah keluarga yang cukup  sederhana. Lahir pada tahun 1984 di sebuah desa di Kabupaten Dairi dari pasangan Ayah L. Munte dan Ibu R. Lumban Gaol. Keseharian mereka adalah bertani dan mereka tak pernah lelah dalam membutuhi kami anak-anaknya. Saya memiliki 5 saudara perempuan dan 1 saudara laki-laki anak paling bungsu. Anda yang Batak tentu bisa mengerti hal ini.

Pada tahun 1990, tepat saya berumur 6 tahun dan didaftarkan di salah satu SD Negeri yang ada di desa saya. Dengan semangat saya berangkat setiap pagi lengkap dengan seragam putih merah, dasi, topi, sepatu juga tas yang masih baru-baru. Seiring dengan semangat yang saya miliki, saya selalu berusaha dan serius dalam mengikuti setiap kegiatan yang ada di Sekolah. Dan puji Tuhan saya bisa mendapat prestasi dalam kelas saya dan terus berlanjut hingga kejenjang yang diatasnya. Dalam setiap kegiatan yang ada disekolah seperti cerdas cermat dan olimpiade saya selalu tetpilih menjadi salah satu duta sekolah. Dengan semaksimal mungkin saya selalu mempersiapkan diri untuk membawa nama sekolah saya tersebut. Pada tahun 1996 puji Tuhan saya dapat lulus dari SD ini dengan mendapat nilai terbaik pula.

Saya lalu diterima di  salah satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri yang ada di Kecamatan kami. Semangat belajar saya tidak berubah seperti saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Walau jarak rumah ke sekolah kurang lebih 4 KM dan harus saya tempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman, bukan alasan buat saya untuk malas ke sekolah. Hujan tak pernah menjadi penghalang bagi saya untuk tidak berangkat sekolah. Dan puji Tuhan juga berkat dukungan dari orang tua, saya juga bisa meraih prestasi di sekolah saya ini. Pada tahun 1999 saya lulus dari SLTP dan mendapat nilai yang baik.

Seperti keinginan banyak orang tua, anak-anak harus disekolahkan sedayamampunya. Orang Batak menganut falsafah “Anakkonki do hamoraon di au”. Saya melanjutkan lagi pendidikan saya ke salah satu Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri di kota daerah saya. Melihat teman-teman dari berbagai sekolah dan daerah serta kalangan yang berbeda, saya hampir minder dan kurang percaya diri dengan kemampuan saya. Walau demikian saya tetap berusaha dan semangat, sekalipun jarak yang harus saya tempuh setiap harinya cukup jauh yaitu sekitar 15 Km dari rumah dengan naik angkutan umum. Tapi hal itu tak pernah menjadikan saya lelah. Karena sejak kecilpun saya sudah menanamkan semangat yang tinggi dalam bersekolah. Apa yang saya kwatirkan sejak saya menginjak SMU ini tidak benar adanya. Usaha saya juga berhasil. Prestasi masih dapat menjadi milik saya. Hingga kejenjang kebih tinggi saya tetap berusaha sampai saya juga dapat menamatkannya. Saya lulus SMU pada tahun 2002.

Memang benar bahwa semakin kita jalani dan nikmati ternyata belajar itu sangat mengasyikkan. Saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu universitas. Saya lalu mengutarakan keinginan tersebut kepada kedua orang tua saya, sayangnya mereka tidak mengijinkan sebab saudara – saudaraku yang lain juga sedang bersekolah. Sedih rasanya ketika semangat yang berapi-api itu tiba-tiba tersiram oleh air kemiskinan. Sedih….dan sangat sedih. Apalagi ketika mendengar kabar teman-teman udah pada kuliah. Putus asa memang bukan jalan keluarnya, tapi tak dapat dibohongi saya akhirnya menjadi orang yang minder, gampang marah dan susah bergaul. Saya jadi sering mengurung diri. Saya kecewa dengan keadaan. Saya berpikir bahwa apa yang saya raih selama ini sia-sia adanya.

Suatu ketika, seorang sahabat yang telah lebih dulu berhasil mengajak saya untuk menjadi guru honorer di sebuah sekolah negeri. Dan saya tertarik dengan ajakannya. Sejak saat itu saya bangkit kembali dan saya sadari memang tak ada yang sia-sia. Tuhan memiliki rencana yang berbeda-beda buat anak-anakNya. Sambil bekerja, saya akhirnya bisa kuliah. Walau tak seperti teman-teman yang bisa fokus hanya bersekolah, tapi saya begitu menikmatinya. Tepat pada waktunya, berkat dukungan dan bantuan orang yang mengasihi dan saya kasihi (suami.red) saya akhirnya dapat menamatkan perkuliahan.

Sebagai cita-cita saya dan suami yang telah mendukung dan menyemangati saya, setelah tamat saya ikut test CPNS, dan puji Tuhan saya dipercayakan ambil bagian dalam negara ini. Dan saya bertugas sebagai guru di salah satu SD Negeri di Kabupaten Humbang Hasundutan.


Tuhan memiliki rencana yang berbeda-beda bagi setiap orang, dan semua rencana itu indah adanya. Selalu berusaha serta bertekun dalam doa, dan mujizat akan nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s